Berdasarkan penelitian terkini, Kota Semarang mengalami penurunan kriminalitas yang signifikan dengan jumlah kasus menurun menjadi 896 perkara di tahun 2025.
Namun, 50% wilayah Semarang masih termasuk kawasan rawan kejahatan, terutama di kecamatan-kecamatan seperti Gayamsari, Pedurungan, dan Semarang Utara. Area aman meliputi Kecamatan Tugu, Gunung Pati, Ngaliyan, dan Genuk yang memiliki tingkat keamanan baik.
Dampak kriminalitas tidak hanya mengancam keselamatan fisik, tetapi juga menurunkan kualitas hidup, merusak hubungan sosial, menciptakan rasa curiga antarwarga, serta menghambat perkembangan pendidikan anak dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Daftar Isi
- 1 Berapa Persen Tingkat Keamanan Terhadap Kriminal di Semarang?
- 2 Di Mana Area Aman Kriminal di Kota Semarang?
- 3 Di Mana Area Rawan Kriminal di Kota Semarang?
- 4 Risiko Kriminalitas Terhadap Kehidupan Sosial di Semarang
- 5 Risiko Kriminalitas Terhadap Kualitas Hidup di Semarang
- 6 Risiko Kriminalitas Terhadap Individu atau Keluarga di Semarang
- 7 Risiko Kriminalitas Terhadap Komunitas di Semarang
Berapa Persen Tingkat Keamanan Terhadap Kriminal di Semarang?
Berdasarkan data Numbeo yang diperbarui pada Juli 2025, Kota Semarang memiliki Safety Index sebesar 61.89, yang berarti tingkat keamanan di kota ini mencapai sekitar 62%.
Sementara itu, Crime Index tercatat sebesar 38.11 (kategori rendah), menunjukkan bahwa tingkat kejahatan relatif terkendali. Data ini didukung oleh laporan Polrestabes Semarang yang mencatat penurunan kasus tindak pidana sebesar 53%, dari 1.914 kasus di 2024 menjadi 896 kasus di 2025, dengan tingkat penyelesaian kasus mencapai 82%.
Di Mana Area Aman Kriminal di Kota Semarang?
Area Aman kota Semarang dari Kriminal dibagi menjadi 2 kategori, wilayah pinggiran kota dan kawasan Semarang Atas.
Wilayah Pinggiran Kota:
- Kecamatan Tugu – Memiliki tingkat kemiskinan rendah dan tingkat keamanan yang baik dengan jumlah kasus kriminal minimal
- Kecamatan Ngaliyan – Area dengan tingkat kejahatan rendah dan tingkat aktivitas masyarakat yang terkelola baik
- Kecamatan Genuk – Wilayah relatif aman dengan respons kota yang efektif dari pemerintah dan kepolisian
Kawasan Semarang Atas:
- Kecamatan Gunung Pati – Menunjukkan kondisi keamanan baik dengan dukungan respons yang efektif dari sektor pemerintah dan kepolisian
- Kecamatan Banyumanik – Lingkungan asri dengan kondisi keamanan yang terjaga dan pengawasan efektif
- Kecamatan Tembalang – Area yang menjaga kondisi keamanan dengan baik melalui partisipasi aktif masyarakat
Di Mana Area Rawan Kriminal di Kota Semarang?
Berikut daerah rawan kriminal dibagi menjadi 3 tingkatan, paling rawan, rawan tinggi, dan cukup rawan.
Paling Rawan:
- Kecamatan Gayamsari – Wilayah paling rawan dengan 16 kasus pencurian dan 3 kasus pembunuhan.
- Kecamatan Semarang Selatan – Kerawanan tinggi hampir di seluruh wilayah dengan kasus curas, narkoba, dan kejahatan jalanan, ditambah kepadatan penduduk tertinggi 13.431 jiwa per km²
Rawan Tinggi:
- Kecamatan Pedurungan – Tergolong sangat rawan terutama pada waktu larut malam pukul 00.01-06.00
- Kecamatan Semarang Tengah – Tingkat kerawanan tinggi di area pusat kota dengan aktivitas intens
- Kecamatan Semarang Timur – Kategori cukup rawan hingga sangat rawan pada malam hari
Cukup Rawan:
- Kecamatan Semarang Barat – Tingkat kriminalitas cukup tinggi terutama pada malam hari
- Kecamatan Gajahmungkur – Kerawanan meningkat pada waktu malam dengan berbagai kasus kejahatan jalanan
- Kecamatan Candisari – Wilayah dengan tingkat aktivitas tinggi yang berpotensi meningkatkan risiko kejahatan
- Jalan Dr. Cipto – Titik rawan balap liar yang sering menjadi lokasi operasi polisi
Risiko Kriminalitas Terhadap Kehidupan Sosial di Semarang
Kehidupan sosial mencakup hubungan, interaksi, dan kolaborasi antar warga dalam komunitas yang dibangun atas dasar kepercayaan, kebersamaan, dan solidaritas. Kriminalitas mengancam pondasi kehidupan sosial ini melalui berbagai risiko:
- Menurunnya Kepercayaan Antarwarga – Kriminalitas menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap satu sama lain dan merusak fondasi penting dalam membangun masyarakat yang harmonis
- Meningkatnya Rasa Curiga – Kejahatan memicu rasa curiga antara satu individu dengan individu lainnya, mengurangi tenggang rasa dan menghilangkan rasa kekeluargaan
- Terkikisnya Nilai Kebersamaan – Rasa curiga yang berkembang merusak nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan solidaritas sosial yang menjadi karakteristik masyarakat Indonesia
- Menurunnya Partisipasi Sosial – Kondisi kriminalitas memperburuk pengelolaan lingkungan dan mengurangi partisipasi masyarakat dalam kegiatan sosial yang positif
- Meningkatnya Sikap Individualis – Masyarakat mengadopsi sikap lebih tertutup dan individualis sebagai mekanisme pertahanan diri, yang melemahkan ikatan sosial di tingkat komunitas
- Stigma Negatif Wilayah – Dampak sosial menciptakan stigma negatif terhadap wilayah tertentu dan memengaruhi nilai properti serta daya tarik investasi di area tersebut
Risiko Kriminalitas Terhadap Kualitas Hidup di Semarang
Kriminalitas menurunkan kualitas hidup masyarakat Semarang melalui penciptaan rasa was-was yang terus menerus dan pengurangan tingkat kepercayaan sosial antara individu dalam komunitas.
Faktor psikologis mengalami degradasi akibat ketakutan konstan terhadap tindakan kriminal, hal ini memicu berbagai masalah kesehatan seperti gangguan tidur, kecemasan, dan depresi.
Secara ekonomi, kriminalitas yang tinggi menghambat aktivitas ekonomi karena masyarakat yang merasa terancam cenderung menghindari investasi atau memindahkan usaha ke lokasi lebih aman, yang pada gilirannya mengurangi penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi lokal.
Pemerintah daerah juga harus mengalokasikan anggaran lebih besar untuk keamanan, mengurangi dana yang seharusnya digunakan untuk pembangunan infrastruktur dan layanan publik lainnya.
Risiko Kriminalitas Terhadap Individu atau Keluarga di Semarang
Kriminalitas mengganggu proses pendidikan dan perkembangan anak, membuat mereka kehilangan waktu bermain di luar rumah yang penting untuk perkembangan sosial dan fisik.
Kekerasan dalam rumah tangga dan konflik keluarga meningkatkan risiko perilaku kriminal pada anak di masa depan, menciptakan siklus kriminalitas antargenerasi.
Keluarga menanggung beban ekonomi berat melalui kehilangan properti, biaya perawatan medis, biaya keamanan tambahan, dan hilangnya produktivitas untuk mengurus laporan polisi serta proses hukum.
Trauma psikologis yang dialami korban kejahatan bertahan lama dan memerlukan konseling atau terapi profesional yang tidak murah.
Risiko Kriminalitas Terhadap Komunitas di Semarang
Kriminalitas menciptakan atmosfer ketakutan konstan yang membuat masyarakat merasa tidak nyaman akibat berbagai kemungkinan buruk yang dapat terjadi kapanpun dan dimanapun.
Kejahatan secara sistematis memicu rasa curiga antara satu individu dengan individu lainnya, mengurangi tenggang rasa dan menghilangkan rasa kekeluargaan yang menjadi modal sosial penting.
Komunitas yang dulunya solid dan saling membantu menjadi terfragmentasi dan individualistis sebagai respons terhadap ancaman kejahatan. Pelaku kriminalitas mengalami pengucilan oleh masyarakat dan kesulitan diterima kembali meskipun sudah berubah dan menjalani masa rehabilitasi, yang justru mendorong mereka kembali ke jalur kejahatan.
Namun, komunitas dapat berperan vital dalam pencegahan kejahatan dengan membentuk patroli keamanan lingkungan, sistem pelaporan cepat, dan kolaborasi dengan aparat keamanan untuk meningkatkan keamanan secara signifikan.
