Kota Semarang memiliki perjalanan sejarah panjang yang dimulai sejak abad ke-8 Masehi sebagai pelabuhan penting Kerajaan Mataram Kuno.
Transformasi kota ini melalui berbagai era, dari kesultanan Islam, kolonialisme Belanda, hingga menjadi kota metropolitan modern, membentuk identitas unik kota Semarang sebagai kota pelabuhan multikultural dengan warisan arsitektur yang kaya.
Perjalanan ini mencakup era Bergota sebagai pelabuhan pesisir, perintisan wilayah oleh Ki Ageng Pandan Arang, penguasaan Kesultanan Mataram, dominasi VOC dengan pembangunan benteng kolonial, hingga transformasi menjadi kota praja modern pasca kemerdekaan Indonesia.
Untuk memahami bagaimana kota Semarang berkembang menjadi salah satu kota metropolitan terpenting di Indonesia, kita perlu menelusuri jejak historis dari setiap periode yang membentuk karakter kota ini, dari era kesultanan hingga modernisasi pasca kemerdekaan yang mengubah lanskap perkotaan.
Daftar Isi
- 1 Abad 8M: Bergota
- 2 Abad 15M: Perintisan Wilayah Semarang
- 3 Akhir Abad 15M: Penetapan Wilayah Semarang Setingkat Kadipaten
- 4 Awal Abad 16M: Semarang di Bawah Mataram
- 5 Akhir Abad 16M: Semarang Dikuasai VOC
- 6 Abad Kemerdekaan: Semarang Kota Praja Modern
- 7 Apakah Terdapat Pengaruh Gaya Bangunan dengan Era Kekuasaan?
Abad 8M: Bergota
Kota Semarang berawal sekitar abad ke-8 Masehi di daerah pesisir bernama Pragota (kemudian disebut Bergota), yang merupakan bagian dari kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno. Asal-usul Bergota adalah Pragota, sebuah pelabuhan penting era Kerajaan Mataram Kuno pada tahun 700-an Masehi.
Daerah ini berfungsi sebagai pelabuhan utama kerajaan, dengan gugusan pulau-pulau kecil di depannya yang terbentuk akibat pengendapan lumpur dari Sungai Garang dan aktivitas vulkanik di wilayah sekitarnya. Dewi Yuliati dalam penelitiannya “Mengungkap Sejarah Kota Lama Semarang” di Universitas Undip menjelaskan bahwa pelabuhan Bergota menjadi pintu masuk vital bagi perdagangan maritim Kerajaan Mataram Kuno yang menghubungkan jalur laut dengan pedalaman Jawa Tengah.
Nama Bergota sendiri berasal dari verbastering (degenerasi bahasa) kata ‘Berg in de Kota’ yang berarti ‘gunung di sebuah kota’, merujuk pada karakteristik geografis wilayah pesisir yang dikelilingi perbukitan.
Namun seiring berjalannya waktu, endapan lumpur menyebabkan Pelabuhan Bergota semakin dangkal, mematikan aktivitas ekonomi dan menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kemunduran Kerajaan Mataram Kuno.
Abad 15M: Perintisan Wilayah Semarang
Pada akhir abad ke-15 Masehi, seseorang bernama Pangeran Made Pandan (juga dikenal sebagai Sunan Pandanaran I atau Ki Pandan Arang) ditempatkan oleh Kesultanan Demak untuk menyebarkan agama Islam dari perbukitan bekas wilayah Pragota.
Bersama putranya, Made Pandan membuka hutan di suatu tempat yang kemudian bernama Pulau Tirangan dan memulai misi dakwah Islam di wilayah tersebut.”
Dari waktu ke waktu, daerah yang dibuka semakin subur dan di sela-sela kesuburan itu muncul pohon asam yang jarang-jarang (dalam bahasa Jawa: ‘asem arang’).”
Dari sinilah nama “Semarang” berasal, yang kemudian melekat sebagai identitas wilayah tersebut.
Made Pandan memulai tugasnya dengan membangun sebuah masjid yang sekaligus dijadikan padepokan untuk pusat kegiatan mengajarkan agama Islam, yang kelak menjadi cikal bakal Masjid Agung Semarang.
Akhir Abad 15M: Penetapan Wilayah Semarang Setingkat Kadipaten
Sebagai pendiri permukiman baru, Made Pandan kemudian menjadi kepala daerah setempat dengan gelar Kyai Ageng Pandan Arang I, menandai dimulainya sistem pemerintahan lokal di Semarang.
Setelah beliau wafat, kepemimpinan daerah dipegang oleh putranya yang bergelar Pandan Arang II, yang kelak dikenal sebagai Sunan Bayat.”
Di bawah pimpinan Pandan Arang II, daerah Semarang semakin menunjukkan pertumbuhan yang pesat sehingga menarik perhatian Sultan Hadiwijaya dari Kesultanan Pajang.
Pertumbuhan ekonomi dan sosial ini memperkuat posisi Semarang sebagai wilayah administratif setingkat kadipaten yang memiliki otonomi dalam mengatur pemerintahan lokal, meskipun tetap berada di bawah kekuasaan kesultanan yang lebih besar.
Awal Mula Semarang Menjadi Pusat Perdagangan
Semarang mulai berfungsi sebagai pelabuhan laut pada 2 Mei 1547, bersamaan dengan penobatan Bupati Semarang pertama yaitu Pandan Arang II.
Lokasi strategis di pesisir utara pulau Jawa dan aksesibilitas ke pedalaman melalui jalur sungai menjadikan Semarang sebagai simpul perdagangan penting yang menghubungkan komoditas dari pedalaman (seperti beras, gula, dan rempah-rempah) dengan jalur maritim regional.
Pelabuhan Semarang menjadi gerbang ekspor-impor yang menggerakkan ekonomi lokal dan menarik pedagang dari berbagai wilayah, termasuk Tiongkok, Arab, dan Gujarat.
Awal Abad 16M: Semarang di Bawah Mataram
Pada awal abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-17, wilayah Semarang berada di bawah pengaruh Kesultanan Mataram Islam yang dipimpin oleh dinasti Senopati.
Kota Semarang berfungsi sebagai salah satu pelabuhan penting yang memberikan akses maritim bagi Mataram untuk melakukan perdagangan dengan pedagang asing dan mengendalikan jalur distribusi komoditas dari pedalaman Jawa Tengah ke pesisir utara.
Masa kekuasaan Mataram ditandai dengan berkembangnya arsitektur tradisional Jawa di wilayah Semarang, termasuk bangunan pendopo, masjid dengan atap limasan khas Jawa, dan penggunaan material kayu jati serta ukiran tradisional.
Sistem pemerintahan feodal dengan struktur bupati sebagai wakil sultan juga mengatur kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Semarang pada periode ini.
Akhir Abad 16M: Semarang Dikuasai VOC
Pada tahun 1677-1678, terjadi perubahan besar dalam sejarah Semarang. Diawali dari penandatanganan perjanjian antara Kesultanan Mataram dan VOC pada 15 Januari 1678, Sultan Amangkurat II menyerahkan Semarang kepada VOC sebagai pembayaran utang karena VOC telah membantu Mataram menumpas Pemberontakan Trunojoyo.”
Kemudian pada tahun 1705, Susuhunan Pakubuwono I secara resmi menyerahkan Semarang kepada VOC sebagai bagian dari perjanjian karena telah dibantu untuk merebut Kartasura. Sejak saat itu, jalur perdagangan di Kota Semarang beralih sepenuhnya di bawah kekuasaan VOC, mengubah lanskap ekonomi dan politik kota secara fundamental.
Pusat Kekuasaan Kolonial
Setelah kota Semarang berada di bawah kekuasaan penuh VOC, kota ini mulai dikembangkan sebagai pusat administrasi dan perdagangan kolonial Belanda di Jawa Tengah.
VOC memindahkan pusat komando perdagangan mereka dari Jepara ke Semarang karena posisi strategis pelabuhan Semarang yang lebih baik untuk distribusi komoditas ke berbagai wilayah Nusantara dan jalur perdagangan internasional.
Kawasan permukiman khusus bagi bangsa Belanda mulai dibangun di sekitar Kali Semarang, yang kelak menjadi Kota Lama Semarang.
Pembangunan Kota Benteng
Pada tahun 1678, VOC mendirikan Benteng Vijfhoek (atau nama lengkapnya Benteng de Vijfhoek van Semarang) sebagai struktur pertahanan dan pusat kekuasaan kolonial.
Benteng ini dibangun untuk menggantikan fungsi benteng di Jepara yang sudah dianggap tidak layak dan sebagai simbol kekuatan VOC di wilayah pesisir utara Jawa.”
Benteng Vijfhoek awalnya memiliki lima bastion (sudut pertahanan) bernama Zeeland, Bunschoten, Amsterdam, Utrecht, dan Raamsdock.
Pada tahun 1756, bangunan benteng mengalami renovasi besar dengan merobohkan tiga bastion dan mempertahankan dua bastion yang diubah namanya menjadi Bastion de Smits dan de Zee, serta menambahkan empat sudut baru bernama de Hersteller, Ceylon, Amsterdam, dan IJzer.”
Di dalam benteng mulai dibangun bangunan-bangunan yang menjadi pusat perkantoran dan niaga seperti Spiegel, Marba, dan lapangan parade.
Namun, pada tahun 1824, Belanda memutuskan merobohkan Benteng de Vijfhoek untuk memperluas wilayah permukiman dan komersial yang saat ini menjadi kawasan Kota Lama Semarang.”
Status Kotapraja
Status kotapraja (gemeente) adalah bentuk pemerintahan kota otonom yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial Belanda di Hindia Belanda.
Kota Semarang ditetapkan sebagai kotapraja karena telah memiliki infrastruktur perkotaan yang memadai, populasi yang signifikan, serta aktivitas ekonomi dan perdagangan yang berkembang pesat.
Status ini memberikan kewenangan kepada pemerintah kota untuk mengatur administrasi lokal, pembangunan infrastruktur, dan pelayanan publik secara mandiri di bawah pengawasan pemerintah kolonial Belanda.
Abad Kemerdekaan: Semarang Kota Praja Modern
Pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, penataan pemerintahan di Jawa Tengah mulai diupayakan oleh Gubernur Soeroso dan Wongsonegoro.
Di Semarang, Mr. Iman Sudjahri, seorang bekas pegawai di kantor penasehat kota Semarang pada zaman Jepang, diserahi tanggung jawab yang mencakup tugas-tugas wali kota.”
Barulah pada 8 Januari 1946, pemerintah Republik Indonesia di Jakarta secara resmi mengangkat Mr. Mohammad Ichsan sebagai Kepala Kota Semarang (sementara), menjadikannya Wali Kota Semarang pertama dengan masa bhakti 1946-1949.
Menteri Muda Dalam Negeri Mr. Harmani diutus ke Semarang untuk melakukan pelantikan yang diadakan di markas Brigade 49 tentara Sekutu, peristiwa ini dianggap sekaligus menandai pengakuan de facto Sekutu atas Republik Indonesia.”
Semarang Pasca Kemerdekaan
Bentuk Kota Semarang pasca kemerdekaan berkembang menjadi kota metropolitan dengan wilayah administrasi yang terbagi dalam 16 kecamatan.
Kota ini mempertahankan fungsi historisnya sebagai pelabuhan dan pusat perdagangan, sekaligus berkembang menjadi pusat industri, pendidikan, dan jasa.
Infrastruktur modern seperti jalan tol, bandara internasional, dan kawasan ekonomi khusus terus dibangun untuk mendukung pertumbuhan ekonomi kota yang pesat, menjadikan Semarang sebagai salah satu motor ekonomi Jawa Tengah dan Indonesia.
Apakah Terdapat Pengaruh Gaya Bangunan dengan Era Kekuasaan?
Ya, terdapat pengaruh kuat gaya bangunan dengan era kekuasaan di Semarang.
Setiap periode historis meninggalkan jejak arsitektur yang khas. Perpaduan gaya multikultural menciptakan identitas visual unik Semarang sebagai kota multikultural yang menghargai warisan sejarahnya sambil terus berinovasi dalam pembangunan perkotaan.
Era Kesultanan
Pada era Kesultanan Demak dan Mataram (abad 15-17 M), gaya bangunan Semarang didominasi oleh arsitektur tradisional Jawa dengan karakteristik atap limasan atau joglo bersusun, pendopo sebagai ruang publik, dan penggunaan kayu jati sebagai material utama.
Masjid Agung Semarang yang dibangun pada masa perintisan Ki Ageng Pandan Arang menampilkan arsitektur khas Jawa dengan atap susun dan struktur terbuka yang memfasilitasi sirkulasi udara di iklim tropis.”
Klenteng Sam Poo Kong yang didirikan tahun 1724 menunjukkan akulturasi arsitektur Tionghoa dan Jawa, dengan bentuk bangunan tunggal beratap susun limasan khas Jawa namun dengan elemen dekoratif Tionghoa.
Bangunan pada era ini juga menampilkan ukiran kayu khas Jawa pada pintu, jendela, dan elemen struktural lainnya, serta penggunaan ruang yang simetris dengan pembagian antara dalem (ruang pribadi) dan pendopo (ruang publik).
Era Belanda
Gaya bangunan Semarang di era Belanda (abad 17-20 M) didominasi oleh arsitektur kolonial dengan pengaruh gaya Eropa klasik yang disesuaikan dengan iklim tropis.
Bangunan seperti Lawang Sewu menampilkan perpaduan arsitektur klasik yang terlihat pada struktur bangunan, elemen-elemen seperti ukiran khas Jawa, dan penggunaan material seperti kayu jati.
Karakteristik arsitektur kolonial Belanda di Semarang meliputi atap pelana atau limas dengan sudut tinggi, penggunaan pilar-pilar besar sebagai elemen struktural dan estetika, jendela besar dengan kisi-kisi kayu untuk sirkulasi udara, teras luas dengan tiang besar sebagai area teduh, serta elemen dekoratif seperti dormer dan gable pada atap.
Bangunan-bangunan di Kota Lama Semarang hingga kini masih mempertahankan gaya arsitektur kolonial ini, menciptakan kawasan heritage yang menarik wisatawan.”
Material Bangunan Era Belanda
Material yang digunakan pada era Belanda mencakup kayu jati untuk struktur rangka atap, tiang, dan elemen dekoratif, batu alam dan bata merah untuk dinding dan struktur pondasi, besi tuang untuk kolom dan elemen struktural penopang, serta tembaga untuk elemen dekoratif seperti gable pada kanopi.
Sistem konstruksi menggunakan rangka kayu dengan tumpang sari, saka guru (tiang utama), sunduk, pengeret, dan usuk untuk mendukung struktur atap.
Lantai menggunakan material ubin atau marmer, sementara dinding tebal dari bata merah membantu menjaga suhu ruangan tetap sejuk di iklim tropis.
Penggunaan material berkualitas tinggi dan teknik konstruksi yang kuat menjadikan banyak bangunan kolonial Belanda di Semarang bertahan hingga lebih dari satu abad dan masih berfungsi hingga saat ini.
Era Modern
Gaya bangunan Semarang di era modern (paska kemerdekaan hingga sekarang) menampilkan perpaduan arsitektur kontemporer dengan elemen lokal.
Tren arsitektur modern di Semarang mengutamakan desain tropis modern yang disesuaikan dengan iklim panas dan kelembaban tinggi, dengan karakteristik ventilasi alami dan bukaan lebar untuk sirkulasi udara, atap tinggi dengan overhang panjang untuk mengurangi panas matahari, serta material lokal seperti kayu, batu alam, dan bata ekspos.”
Arsitektur vernakular Jawa modern juga berkembang dengan menggabungkan unsur tradisional seperti pendopo atau teras luas, material kayu jati atau bambu, dan atap limasan atau joglo dengan modifikasi kontemporer yang lebih fungsional.
Bangunan komersial dan residensial modern menggunakan material seperti beton, kaca, baja, dan kayu dengan konsep ruang terbuka yang menyatu dengan area luar seperti taman atau teras, serta penerapan teknologi rumah pintar untuk efisiensi energi dan kenyamanan.
Perpaduan antara warisan arsitektur kolonial, tradisional Jawa, dan modern kontemporer menciptakan lanskap perkotaan Semarang yang unik di mana bangunan heritage berdampingan harmonis dengan gedung pencakar langit dan kawasan komersial modern, menjadikan Semarang sebagai kota yang menghargai sejarah sambil terus berinovasi untuk masa depan
