Topografi Kota Semarang: Kondisi Alam, Wilayah Tinggi, dan Rawan Banjir

Topografi Kota Semarang Kondisi Alam Wilayah Tinggi dan Rawan Banjir

Kondisi Topografi dan Geografis Kota Semarang

Kota Semarang memiliki kondisi topografi yang unik dan ekstrem dengan ketinggian beragam mulai dari 0,75 meter hingga 348 meter di atas permukaan laut.

Topografi ini menunjukkan berbagai kemiringan tanah yang berkisar antara 0% hingga 40% (curam), bahkan di beberapa wilayah mencapai 45%. Kondisi geografis Kota Semarang terletak di tengah-tengah Pulau Jawa pada koordinat 6°50′ – 7°10′ Lintang Selatan dan 109°35′ – 110°50′ Bujur Timur, menjadikannya kota strategis di jalur lalu lintas ekonomi pulau.​

Secara morfologis, bentang alam Kota Semarang memiliki karakter unik yang terdiri dari tiga zona utama yaitu dataran pesisir, dataran rendah, dan perbukitan.

Sekitar 65,22% wilayah Semarang merupakan dataran dengan kemiringan 0-25%, sementara 37,78% sisanya merupakan daerah perbukitan dengan kemiringan 15-40%.

Kondisi lereng tanah Kota Semarang dibagi menjadi empat jenis kelerenganbervariasi dari 0% hingga lebih dari 40%.​

Komposisi geologi Kota Semarang didominasi oleh batuan endapan permukaan alluvium dengan persentase sebanyak 46,12% dari seluruh luasan area, terutama di kawasan dataran rendah yang membentuk kawasan luapan banjir pada sisi sungai dengan material berupa kerikil, pasir, lanau, dan lempung.

Permukaan alluvium adalah permukaan tanah datar yang terbentuk dari endapan material sungai (pasir, lumpur, lempung, kerikil) di dataran banjir atau sepanjang aliran sungai.

Kondisi topografi yang ekstrem ini memberikan dampak signifikan terhadap pola pembangunan kota, dengan perkembangan yang semakin bergeser dari Semarang Bawah ke arah Semarang Atas, meskipun kecenderungan ini mengancam kawasan hulu sungai yang berfungsi sebagai daerah konservasi.

Pembagian Wilayah Berdasarkan Ketinggian

Kota Semarang terbagi menjadi dua zona topografi utama yang memiliki karakteristik berbeda secara geografis, sosial, dan ekonomi, yaitu Semarang Bawah dan Semarang Atas. Pembagian ini didasarkan pada ketinggian wilayah dari permukaan laut dan memiliki dampak signifikan terhadap fungsi, perkembangan, dan permasalahan yang dihadapi masing-masing kawasan.​

Semarang Bawah (Dataran Rendah dan Pesisir)

Semarang Bawah mencakup wilayah dataran rendah dan kawasan pesisir dengan ketinggian antara 0,75 hingga 90,56 meter di atas permukaan laut. Wilayah ini meliputi 9 kecamatan yaitu Tugu, Semarang Barat, Semarang Utara, Semarang Tengah, Semarang Selatan, Semarang Timur, Gayamsari, Pedurungan, dan Genuk.

Kawasan pesisir memiliki panjang garis pantai sekitar 25 kilometer yang terbentang di Kecamatan Tugu (3,5 km), Semarang Utara (5,56 km), Semarang Barat (8,94 km), dan Genuk (7 km).​

Semarang Bawah berfungsi sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, dan industri dengan berbagai infrastruktur penting seperti Stasiun Tawang, Bandara Ahmad Yani, Pelabuhan Tanjung Emas, kawasan Kota Lama, serta fasilitas komersial seperti hotel, apartemen, dan pusat perbelanjaan.

Wilayah tersebut memiliki suhu yang relatif lebih panas karena berada di dataran rendah dekat pantai. Kemiringan lereng di Semarang Bawah berkisar antara 0-2%, menjadikannya area yang relatif datar namun rentan terhadap banjir dan rob.​

Semarang Atas (Perbukitan/Dataran Tinggi)

Semarang Atas merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian berkisar antara 90,56 hingga 348 meter di atas permukaan laut. Wilayah ini terdiri dari 7 kecamatan yaitu Mijen, Gunung Pati, Ngaliyan, Banyumanik, Tembalang, Gajahmungkur, dan Candisari. Kondisi geomorfologi menunjukkan bahwa semakin mengarah ke selatan, morfologi cenderung berupa perbukitan dengan elevasi yang lebih tinggi dan kemiringan lereng bervariasi antara 5%-40%.​

Semarang Atas berada di posisi yang lebih tinggi dengan suhu yang relatif lebih sejuk karena letaknya di kaki Gunung Ungaran. Wilayah ini banyak dimanfaatkan untuk perkebunan, persawahan, hutan, dan kawasan konservasi. Perkembangan Kota Semarang kini semakin bergeser ke arah Semarang Atas sebagai pusat pertumbuhan baru, dengan berkembangnya kawasan perumahan, institusi pendidikan, dan pusat bisnis. Namun, ekspansi ini menimbulkan ancaman terhadap kawasan hulu sungai yang berfungsi sebagai daerah resapan air dan konservasi lingkungan.

Klasifikasi 4 Jenis Kelerengan Kota Semarang

  1. Lereng I (0-2%) – Meliputi Kecamatan Genuk, Pedurungan, Gayamsari, Semarang Timur, Semarang Utara, dan Tugu, serta sebagian wilayah Kecamatan Tembalang, Banyumanik, dan Mijen
  2. Lereng II (2-15%) – Meliputi Kecamatan Semarang Barat, Semarang Selatan, Candisari, Gajahmungkur, Gunungpati, dan Ngaliyan
  3. Lereng III (15-40%) – Meliputi wilayah di sekitar Kaligarang dan Kali Kreo (Kecamatan Gunungpati), sebagian wilayah Kecamatan Mijen (daerah Wonoplumbon), sebagian wilayah Kecamatan Banyumanik, dan Kecamatan Candisari
  4. Lereng IV (>40%) – Meliputi sebagian wilayah Kecamatan Banyumanik (sebelah tenggara) dan sebagian wilayah Kecamatan Gunungpati, terutama di sekitar Kaligarang dan Kali Kripik

Daerah Rawan Banjir di Kota Semarang

Kota Semarang menghadapi permasalahan banjir yang kompleks akibat kondisi topografi yang unik, terutama di wilayah dataran rendah dan kawasan pesisir. Pemetaan tingkat kerawanan banjir menunjukkan bahwa beberapa kecamatan memiliki tingkat kerawanan tinggi berdasarkan faktor-faktor seperti elevasi rendah, penurunan muka tanah, penggunaan lahan, jarak dari pantai dan sungai, serta curah hujan.​

Kecamatan dengan Tingkat Kerawanan Banjir Tinggi

Wilayah Pesisir dengan Ancaman Banjir Rob:

  • Kecamatan Genuk – Wilayah dengan kerentanan sangat tinggi terhadap banjir rob, dengan 38,49% atau 1.054,28 hektar area masuk kategori kerawanan tinggi, terutama di Kelurahan Trimulyo, Terboyo Wetan, dan Terboyo Kulon​
  • Kecamatan Semarang Utara – Area yang sering terdampak banjir rob di Kelurahan Tanjungmas, Bandarharjo, Kemijen, Mangkang Wetan, dan Mangunharjo dengan ketinggian air mencapai 30-80 cm​
  • Kecamatan Gayamsari – Wilayah yang mengalami genangan air terutama saat musim hujan dengan ketinggian mencapai 30-60 cm​

Wilayah Dataran Rendah dengan Ancaman Banjir Reguler:

  • Kecamatan Ngaliyan – Area yang masuk dalam daftar kecamatan rawan banjir dengan beberapa titik genangan berulang​
  • Kecamatan Semarang Barat – Wilayah yang sering mengalami genangan terutama di kawasan Kaligawe dengan ketinggian air 45-60 cm​
  • Kecamatan Semarang Tengah – Area pusat kota yang rentan terhadap banjir akibat sistem drainase yang kurang optimal​
  • Kecamatan Semarang Timur – Wilayah dengan beberapa titik rawan banjir terutama saat intensitas hujan tinggi​
  • Kecamatan Pedurungan – Area yang mengalami genangan berulang terutama di kawasan Pondokoro dengan ketinggian air 30-40 cm​
  • Kecamatan Candisari – Wilayah yang masuk dalam kategori rawan banjir dengan beberapa titik kritis​
  • Kecamatan Tugu – Area pesisir yang rentan terhadap banjir dengan genangan mencapai 20-30 cm di beberapa lokasi seperti Trimulyo​

Faktor Penyebab Rawan Banjir

Beberapa faktor utama yang menyebabkan tingginya kerawanan banjir di Kota Semarang meliputi kondisi topografi dataran rendah dengan elevasi 0,75-90,56 mdpl yang membuat air sulit mengalir keluar.

Wilayah pesisir mengalami penurunan muka tanah yang cepat, memperparah kerentanan terhadap banjir rob terutama saat pasang laut tinggi pada pertengahan bulan. Sistem drainase yang kurang optimal di beberapa wilayah menyebabkan air hujan sulit terbuang dan menimbulkan genangan berkepanjangan.

Fenomena rob atau banjir pasang air laut menjadi ancaman serius bagi kawasan pesisir dengan siklus pasang tertinggi yang dapat mencapai ketinggian 80 cm. Kondisi geografis tertentu seperti di Kelurahan Tanjungmas yang mengakibatkan air sulit keluar, membutuhkan pompa tambahan untuk mengatasi genangan.

Daerah Rawan Longsor di Kota Semarang

Tanah longsor menjadi bencana paling dominan di Kota Semarang sepanjang tahun 2025 dengan total 160 kejadian, mengungguli jenis bencana lainnya.

BPBD Kota Semarang mencatat bahwa longsor sebagian besar terjadi di wilayah kecamatan yang memiliki kontur perbukitan dan masuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) yang telah dipetakan sebelumnya.

Sebanyak 6 daerah di Semarang bahkan masuk zona merah yang berisiko tinggi terhadap bencana longsor, mendorong DPRD Kota Semarang mendesak dilakukannya evaluasi segera untuk menjamin keselamatan penduduk.​

Kecamatan Zona Merah dan Rawan Longsor:

  • Kecamatan Candisari – Wilayah dengan kejadian longsor terbanyak, terutama di Kelurahan Candisari yang masuk zona merah​
  • Kecamatan Gajahmungkur – Area rawan longsor dengan kejadian tinggi di Kelurahan Lempongsari​
  • Kecamatan Tembalang – Wilayah perbukitan rawan longsor terutama di Kelurahan Tandang​
  • Kecamatan Gunungpati – Kecamatan dengan topografi berbukit yang sering mengalami longsor, khususnya di Kelurahan Sadeng​
  • Kecamatan Ngaliyan – Area rawan longsor dengan kejadian tinggi di Kelurahan Wonosari​
  • Kecamatan Banyumanik – Wilayah perbukitan yang masuk kategori rawan longsor sesuai peta mitigasi BPBD​

Penyebab Kerawanan Longsor:

Kondisi topografi yang menanjak dengan kemiringan lereng 15%-40% bahkan hingga 45% di beberapa wilayah menjadi faktor utama kerawanan longsor. Curah hujan tinggi yang mengguyur kawasan perbukitan memperparah kondisi tanah yang sudah jenuh air, memicu kelongsoran.

Wilayah Semarang Atas yang berada di ketinggian 90,56-348 mdpl dengan kontur berbukit sangat rentan terhadap longsor terutama saat musim hujan. Memasuki awal tahun 2026 dengan kondisi cuaca ekstrem, BPBD mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terutama saat hujan deras disertai angin kencang.

BNPB bahkan melakukan modifikasi cuaca di Kota Semarang untuk mengurangi intensitas hujan dan meminimalkan risiko bencana hidrometeorologi termasuk longsor.​

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *